Enterha.com – Sistem pendidikan merupakan cara/metode yang digunakan saat proses belajar mengajar. Setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda-beda. Baik jam pelajaran, kurikulum, tenaga pendidik, dan lain-lain.

Dilansir dari steemit.com, ada empat sistem pendidikan yang diakui di Indonesia. Mayoritas sekolah negeri/swasta menggunakan sistem pendidikan nasional, yang diterapkan di SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA/SMK.

Sisanya, ada yang menggunakan sistem pendidikan Amerika Serikat, sistem pendidikan Cambridge (Inggris), dan sistem pendidikan internasional yang diterapkan di JIS (Jakarta International School), Bali International School, Bandung International School, dan sekolah internasional lainya.

Mari kita berbicara tentang Finlandia. Negara yang berbatasan langsung dengan Swedia ini diakui dunia memiliki sistem pendidikan terbaik.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba membandingkan sistem pendidikan Indonesia, dengan sistem pendidikan yang diterapkan Finlandia.

Manakah yang lebih efektif dalam membentuk karakter bangsa?

Jam Pelajaran

Indonesia memiliki jam pelajaran 6-8 jam sehari. Bagi para pelajar, hal ini dirasa cukup berat dan membosankan. Namun, itu belum seberapa jika dibandingkan Korea Selatan yang memiliki jam selama 16 jam sehari, itu berarti mereka baru akan pulang sekolah saat larut malam. Belum lagi ikut bimbel atau ekstrakurikuler.

Meskipun cara ini terlihat cukup berat, namun telah sukses mencetak generasi yang berkompeten. Sisi negatifnya, para pelajar cenderung stress karena kurang memiliki waktu istirahat yang cukup.

Berbanding terbalik dengan Finlandia dengan jam pelajaran 3-4 jam sehari. Sisanya digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Finlandia menggunakan sistem pendidikan seperti ini agar para pelajarnya tidak stress dan mampu terus berpikir positif. Setiap 45 menit jam pelajaran, mengharuskan siswa untuk istirahat selama 15 menit. Para pelajar juga tidak dibebani PR atau tugas yang menumpuk.

Baca Juga :  Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Masuk Kuliah

Namun jika sistem seperti ini diterapkan di Indonesia, bukanya berhasil saya rasa para pelajar akan semakin malas menuntut ilmu.

Sistem Ranking

Para pelajar di Indonesia terus berlomba di bidang akademik demi meraih peringkat terbaik dikelasnya. Hal ini lebih sering disebut Ranking.

Sudah menjadi rahasia umum, jika siswa yang mendapat ranking bagus akan mendapat kebanggaan tersendiri. Baik di mata orang tua, baik di lingkungan pertemananya.

Hal ini juga cukup untuk membakar semangat siswa dalam belajar.

Namun, hal ini tidak berlaku di Finlandia. Disana, sekolah tidak memberlakukan sistem Ranking. Mereka menganggap ranking akan membedakan siswa cerdas dan siswa bodoh. Juga akan membentuk jurang pemisah antar siswa.

Mereka percaya bahwa semua pelajar adalah ranking satu, dan terbaik di kelasnya.

Wah, pemikiran yang sangat keren ya.

Biaya Sekolah

Mungkin ini adalah salah satu penghambat pendidikan di Indonesia. Ya, biaya pendidikan di Indonesia masih dirasa cukup mahal terutama bagi rakyat kurang mampu. Sekolah negeri saja, yang biayanya ditanggung pemerintah, masih tetap memerlukan biaya tambahan dari orang tua.

Jangankan untuk masuk perguruan tinggi, diluar sana banyak sekali anak yang putus sekolah bahkan di jenjang SMP.

Lain halnya dengan Finlandia. Di negara ini, sekolah negeri bebas biaya untuk semua kalangan. Dan untuk sekolah swasta, Finlandia memberikan aturan ketat terkait biaya pendidikan.

Jadi, pendidikan disana bisa dinikmati semua golongan masyarakat. Bukan hanya kalangan atas saja.

Jadi, manakah sistem pendidikan yang lebih unggul? Menurut saya, semua sistem pendidikan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan cocok diterapkan di kontur wilayah masing-masing.

Hanya saja, untuk di Indonesia pemerintah masih harus turun tangan dalam menciptakan pendidikan yang bisa dinikmati semua kalangan.

2 thoughts on “Membandingkan Sistem Pendidikan di Indonesia dengan Luar Negeri”

  1. Nice info gan, menurutku masih standar gan 6-8 jam. Mungkin yang menyebalkan dari seorang siswa adalah adanya PR, karena disaat mereka ingin bermain malah harus mengerjakan PR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *